Ghost

My Button Collection

Di Antara Senar Gitar dan Biola

Dulu ibu akan menghukumku jika memarahi adik. Kubentak sedikit saja, adik akan menangis. Setelah itu, ibu akan memukuliku dengan kasarnya. Ia akan berhenti memukuliku jika adik memintanya ataukah ayah menyuruhnya berhenti. Segitu bencikah ibu padaku? Kadang aku berpikir ia lebih sayang pada anak bungsunya dibanding aku. Aku tidak mengingat lagi kapan terakhir kali ibu memujiku. Emiri dan aku terpaut usia 2 tahun, dan ia memang anak yang lembut, tidak sepertiku yang sedikit bersifat tomboy.

“darimana saja kau?” tanya ibu dengan nada sinis saat aku baru saja membuka sepatu.

“sekolah” jawabku seadanya sambil berjalan menuju kamar.

“dasar anak tidak sopan! Hei, kau sedang berbicara dengan ibumu, mengapa sifatmu tidak juga bisa seperti Emiri hah?!!” bentak ibu dengan keras di belakangku. Aku sedikit sakit hati dengan ucapan ibu, kenapa ia selalu ingin aku seperti Emiri?

“aku lelah, aku baru saja pulang kenapa langsung dimarahi? Kenapa aku tidak seperti teman-temanku yang selalu di sambut hangat oleh ibunya setiap pulang sekolah?” tuturku dengan mata berkaca-kaca lalu segera berlari menuju kamar.

BRAAKKKK!!! Kubanting keras pintu kamar dan kubuka lebar-lebar jendela kamaku. Angin mengusap lembut kristal bening yang tidak sengaja menganak sungai di pipiku. “aku bukan anak yang diharapkan ibu” batinku lirih, lalu merebahkan diri di tempat tidur.

Tak terasa aku sudah tertidur 3 jam lamanya. Jendela kamar masih terbuka lebar, memperlihatkan primadona malam yang tengah tersipu malu di antara kerumunan awan yang kehitam-hitaman.   sudah waktunya makan malam, aku bergegas membersihkan diri kemudian menuju ke ruang makan. Kulihat ayah, ibu dan Emiri sudah bersiap di sana. Ibu menatapku sinis dan ayah lalu menyuruhku duduk di sebelah Emiri yang menyunggingkan senyum padaku.

“baru bangun ya? Kakak pasti lelah” kata Emiri dengan suaranya yang lembut.

“yow” jawabku singkat sambil menyendok nasi dan lauk ke piringku. Dengan lahapnya aku menyuap makanan dengan bersemangat hingga suara teguran yang tidak kusukai itu terdengar lagi. “tidak bisakah kau makan layaknya anak perempuan?” ujar ibu. Aku tidak mempedulikan perkataan ibu. Aku tetap asyik mengunyah makananku. Emiri terlihat panik saat itu.

“lihat adikmu, ia makan lebih sopan dan selayaknya anak perempuan. Sedangkan kau apa? Seperti tidak punya etika!” tutur ibu lagi yang kali ini membuatku geram. “bisakah ibu diam? Ini waktunya makan, bukan bicara. Ayah saja tidak mempermasalahkan cara makanku, kenapa ibu selalu saja membandingkanku dengan Emiri? Semua anak punya karakter masing-masing, bu. Tidak akan pernah sama” aku mendengus kesal dan melanjutkan makanku dengan gerakan lebih cepat.

“sudah, Kita sedang makan, jangan membuat kegaduhan di depan makanan!” tegur ayah lembut. 

                Setelah selesai makan, aku kembali ke kamar dan mengingat-ingat lagi semua perkataan ibu padaku, tentang perbedaanku dengan Emiri yang lebih lembut, tentang bakat Emiri yang pandai bermain biola. Ibu akan menyuruhku keluar dari rumah saat memainkan gitar kesayanganku. “kalau mau main gitar, sana di luar. Jangan membuat kegaduhan di dalam rumah” begitu katanya. Terngiang dan menjadi mimpi buruk dalam tidurku. Huhh..

Saat pulang sekolah kulihat Emiri tengah dikerumuni oleh beberapa orang. Aku hanya memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan. Sambil memainkan ponselku, sesekali aku melirik ke arah mereka. Nampak rambut Emiri ditarik oleh salah satu dari mereka dengan kasarnya. Sontak aku geram dan naik darah melihat adikku diperlakukan demikian. Aku segera berlari ke arah mereka dan memukul gadis yang menarik rambut Emiri. Akhirnya kami pun berkelahi. Tak berapa lama kemudian aku berhasil melumpuhkan gadis itu dan meminta maaf padaku. Kubalas dengan menarik rambutnya hingga ia meringis kesakitan dan memohon untuk dilepaskan. Lalu rombongan gadis-gadis itu berlari meninggalkan temannya yang sedang kutarik rambutnya. 

“berani kau menyakiti adikku, kau akan mati di tanganku!!!” ancamku dengan wajah memerah.

“tidak, ampun, aku janji tidak akan mengganggu Emiri  lagi. Tolong lepaskan rambutku, sakit sekali!” pintanya dengan mata yang sudah mulai berlinang air mata.

“sakit kan? Ini belum seberapa, aku bisa membuatmu lebih sakit dari ini. Kau mengerti?!

Ia menjawab sambil terisak,”iya, iya aku mengerti!!”

Kemudian kulepaskan rambut gadis itu sambil mendorongnya dengan kasar. Dalam hati aku sangat iba melihat adikku yang begitu lemah karena tidak melawan.

“kaaak..kakak, tunggu!” teriak Emiri yang berlari-lari kecil di belakangku saat aku berjalan menuju gerbang sekolah.

“bisa jalan lebih cepat? Kenapa kau begitu lemah, hah?!” tegurku dengan suara lantang yang membuat ia berdiri menunduk di hadapanku. “kenapa? Kau ingin mengadukanku pada ibu kalau aku membentakmu? Sana, silahkan!”

Emiri memelukku erat sambil menangis. Aku diam mematung dalam pelukannya. “ada apa dengan anak ini?” batinku penasaran.

“terima kasih. Kalau kakak tidak ada, aku pasti sudah dihajar oleh mereka” tuturnya lirih.

“kalau kau dihajar, aku akan dihajar juga oleh ibu. Asal kau tahu, kau itu anak kesayangannya. Kau tidak boleh terluka sedikitpun. jika kau terluka, pasti aku disalahkan karena ceroboh tidak menjagamu. Mengerti?! Sudah, lepaskan aku” kataku sambil melepaskan diri dari pelukannya.

“kaak..” ia menangis terisak di hadapanku. “aku begitu menyayangimu. Aku tidak berani membelamu di hadapan ibu karena takut dimarahi juga. Kau tahu, aku sangat kasihan jika kau setiap hari harus dimarahi ibu walaupun tanpa kesalahan”

“sudah biasa. Biarkan saja ibu marah, harusnya ia langsung saja membunuhku biar tidak ada yang membuatnya marah” jawabku asal.

“kakak, jangan bicara sembarangan. Ibu menyayangimu!” kata Emiri membela ibu.

“ya, terserah katamu” jawabku datar lalu meninggalkan ia sendirian.

Aku tak pernah menyalahkanmu, adikku..

                Beberapa tahun kemudian, aku lulus dari sekolah dan berniat melanjutkan studi ke kota lain. Aku ingin mengembangkan bakatku bermain gitar dan bernyanyi agar nantinya aku bisa terkenal seperti penyanyi idolaku, Yui.  Ayah sangat mendukungku dan mengizinkanku untuk menetap di kota tempat pamanku tinggal. Sedangkan ibu tidak peduli dan menyerahkan keputusan sepenuhnya pada ayah. Lain halnya dengan Emiri yang tidak ingin aku pergi. Ia menangis berhari-hari, bahkan menangis di depan kamarku dan merengek ingin tidur bersama sebelum aku pergi. Tapi aku tidak memperbolehkan ia masuk sebelum nantinya aku pergi. Dasar anak manja.

“kenapa kau jahat?! Aku hanya ingin tidur bersamamu, malam ini saja. Besok kau sudah berangkat, kan? Bukaaaaaa!!’ teriaknya sambil memukul-mukul pintu kamarku.

“heh, anak manja. Berisik. Sana pergi, aku tidak ingin tidur denganmu. Aku tidak ingin tertular sifat lemahmu itu” balasku dengan teriakan pula.

“ini tidak menular, bodoh!” teriaknya dengan suara tercekak karena menahan tangis. 

Aku tidak sengaja tertawa mendengarnya, aku menahan suara tawaku agar tidak terdengar olehnya. Lalu beberapa menit kemudian tak ada suara. Aku pikir ia sudah lelah membujukku untuk membukakannya pintu dan kembali ke kamarnya. Dengan perlahan aku membuka pintu kamar dan terkejut melihat ia terkulai di lantai. Ah, rupanya ia tertidur. Aku merasa kasihan melihat adikku, aku lalu menggendongnya masuk ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Andai saja ia tidak tertidur, tidak akan kubiarkan ia masuk! Kuusap rambutnya dengan lembut, “sebenarnya aku tidak ingin berbicara kasar padamu, tapi aku merasa aneh jika berkata lembut. Entahlah” batinku.

                Kubuka tirai abu-abu yang masih menutupi jendela. Dari celah-celah ventilasi terbias cahaya mentari yang membuat seisi kamarku terang benderang, warnanya terlihat hangat. Kulihat Emiri masih terlelap dalam tidurnya sambi memeluk guling. “bangun, dasar pemalas!” kuguncang tubuhnya hingga ia terbangun. Sambil menggosok matanya, ia tersenyum sumringah saat menyadari ia tidur di kamarku. “kakaaaaak! Aku tidur di sini dari semalam ya?” tanyanya polos nan menyebalkan.

“iya, dan kau sangat menyusahkan. Kau membuatku terjatuh dari tempat tidur karena gerakanmu yang keterlaluan itu” tuturku kesal.

“hahahaa…maaf, kak. Karena tidurku terasa nyaman sekali, makanya begitu..” jawabnya sambil tertawa lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

“hah, alasan kau”

“kak, aku sudah mengizinkanmu pergi. Asal kau janji akan sukses nantinya dan kembali ke rumah” katanya.

“kau pikir aku tidak serius untuk sukses? Lihat saja nanti. Akan kubuat ibu terpesona dengan alunan suara gitarku yang katanya menyebalkan itu. Heh” aku mendengus kesal mengingat omelan ibu.

“hehee..ganbatte!” 

                Aku berdiri mengamati sekeliling rumah. Aku harap tidak ada kerinduan yang tersangkut dalam hatiku yang bisa membuatku terganggu di sana. Dan juga Emiri, semoga dia tidak merindukanku agar ia berhenti menangis. Ibu, semoga ia bisa menyayangiku seperti sayangnya kepada Emiri. Aku melambaikan tangan ke arah ibu dan Emiri sebelum masuk ke mobil bersama ayah.

                Hari pertama di kampus sangat menyenangkan. Dan di sana pula pertama kalinya aku jatuh cinta pada seorang teman kelasku dan menjalin hubungan dengannya. Aku masuk di jurusan musik dan mulai mengasah bakatku di sana. Aku ingin semua orang membuka matanya dan melihat aku sebagai seorang yang bisa diacungi jempol, bukan untuk menjadi sasaran kemarahan. Hingga beberapa tahun aku menuntut ilmu, aku pun berhasil menemukan impianku. Berada di atas panggung dengan gitar kesayanganku sambil menyanyikan lagu ciptaanku sendiri. Untuk pertama kalinya aku melihat ibu tersenyum bangga di kursi penonton, bersama ayah dan Emiri yang kini sudah sukses menjadi seorang violinist terkenal di kotaku.

Hanika, …

HANIKA, …

Aku bahkan tidak mengerti mengapa ini terjadi padaku. Apakah ini hanya mimpi yang tak berkesudahan? Ataukah ini hanya hasil dari sekian juta imajinasi yang kuciptakan? Entahlah, ini benar-benar terjadi padaku..

Aku bertemu dengannya saat penyuluhan kesehatan di aula sekolah. Kebetulan kami duduk bersebelahan. Aku tengah serius mendengar penyuluhan dari salah seorang dokter muda ketika ia tak sengaja menyenggol lenganku. “eh, maaf.” Ia meminta maaf padaku dengan mimik wajah bersalah. Aku hanya meresponnya dengan tersenyum tanpa berkata-kata. Yah, aku memang cowok yang tidak banyak bicara. Bahkan ada teman yang mengataiku bisu. Keterlaluan.

Ditengah-tengah penyuluhan, ia menyapaku ramah.  “hai, maaf ya tadi” sapanya ramah. “Namaku Hanika. Boleh aku tahu namamu? Katanya membuka pembicaraan.

Aku melirik kearahnya yang telah siap menjabat tanganku. “wildan” jawabku sambil menjabat tangannya.

“kamu di kelas mana? Kok aku engga pernah lihat kamu sih?”

“XI IPA 1 . jarang keluar kelas.” Jawab Wildan datar.

“wah, itu kan kelas unggulan. Berarti kamu anaknya pinter dong. Aku di kelas XI IPA 5. Kapan-kapan boleh nih belajar sama kamu, wil?. Yah yah” Pinta gadis berambut panjang itu tampak bersemangat sekali.

Sesaat aku terdiam merenenungkan permintaannya  sampai akhirnya ia menegurku pelan. “hei, kok diem?  Engga mau ya?” tanyanya penuh harap. Aku hanya mengiyakan permintaan gadis yang baru saja ku kenal itu. Sebenarnya aku tak terbiasa mengajar seseorang, tapi aku harap keputusanku ini bisa merubah sedikit kehidupanku yang jarang bersosialisasi. Usai bertukaran nomor handphone, kami kembali mendengar penyuluhan dari dokter.

Sejak saat itu kami tak pernah bertemu lagi. Aku bahkan sudah lupa seperti apa wajahnya. Ia juga tak pernah mengirimkan sms ataupun menelpon padaku. Aku enggan memulai duluan, aku hanya menunggu sampai ia menghubungiku.

 Sudah hampir seminggu berlalu, seorang gadis berambut panjang menghampiriku saat aku baru saja turun dari sepeda motor. “wil, maaf yah. Waktu itu handphoneku jatuh dan rusak jadi engga bisa nelpon kamu deh. aku juga udah berusaha nyari kamu di kelas tapi ada saja halangan , padahal aku pengen banget belajar bareng kamu” ujar gadis itu di depanku. Pikiranku kembali teringat saat bertemu seorang gadis di aula sekolah.

 “kamu yang pernah duduk di sebelahku waktu ada penyuluhan kesehatan di aula, bukan?” tanyaku menaikkan sebelah alisku.

“iya, ini aku Hanika. Wah sudah lupa ya?”

“bukan begitu. Maaf sebelumnya, aku sulit mengingat seseorang apalagi hanya sekali bertemu” jelasku.

“ah sudah, engga apa-apa kok. Oya, sana masuk kelas gih. Bel udah hampir bunyi tuh” katanya  membuka jalan untukku. Lagi-lagi aku hanya tersenyum menanggapi ucapan gadis itu. Aku pun segera berjalan menuju  kelas, kulihat ia masih berdiri di tempat tadi sambil melamabaikan tangan padaku.

                Malam melukiskan sosok primadona yang selalu kurindupuja kehadirannya. Bulan, malam ini ia nampak mempesona sekali. Cahayanya terasa lembut menyentuh pipiku. Kubuka jendela agar sinarnya leluasa masuk menerangi kamarku yang lampunya sengaja kupadamkan. Sambil menengadah ke langit, aku terpikirkan untuk menghubungi Hanika. Bukan karena aku ingin sok kenal padanya, kebetulan aku tidak ada jadwal belajar malam ini, jadi kugunakan untuk bersantai. Kucari-cari nama Hanika di kontak handphoneku dan segera kutelepon. Terdengar suara operator yang memberitahu bahwa nomor yang aku hubungi sedang tidak aktif. “oh iya ya, tadi pagi kan dia bilang kalo handphonenya rusak” gumamku sambil meletakkan kembali handphoneku.   Aku meregangkan otot-ototku yang  tegang karena masih lelah usai membersihkan kamar  tadi siang. Setelah menutup jendela dan tirai, aku berangkat menuju alam mimpi bersama bantal empuk yang selalu menemani tidurku.

                Kembali aku dihampiri Hanika saat memarkir sepeda motor. Rambut panjangnya masih terurai seperti kemarin. “selamat pagi, Wildan” sapanya ramah.

“pagi..” balasku singkat. “handphonemu masih rusak? Semalam aku hubungi nomermu engga aktif” selidikku.

“ah iya, wil. Masih sementara diperbaiki. Mungkin beberapa hari lagi udah baik kok. Kamu mau nelpon aku ya? Hayooo..  Hehehe” godanya.

Aku berhasil dibuatnya malu, tapi aku berusaha untuk bersikap biasa saja. “iya, kebetulan semalam engga ada jadwal belajar jadi pengen ngobrol sama kamu”

“ngeles nih Wildan, kangen ya sama aku? Hahaha” ia tertawa lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Cantik.

“apaan, geer banget kamu tuh. Huu..” balasku sambil sesekali ikut tertawa. “btw kamu kok engga datang ke kelasku aja kalau mau belajar? Tiap hari nemuin aku di parkiran mulu”

“yah..banyak urusan akhir-akhir ini, wil. Belajar barengnya ditunda dulu yah sampai urusanku selesai.” Katanya.

“yauda deh, aku masuk kelas dulu. Bye” kataku sambil berjalan menuju kelas

“dadaah..sampai jumpa besok, wil” teriaknya.

                Setiap pagi di tempat yang sama, gadis itu selalu menghampiriku saat turun dari sepeda motor. Sapaan hangat terlukiskan di setiap lisannya. Keceriannya mulai mengusik pikiranku. Hanika, gadis itu tak pernah menampakkan kesedihan di hadapanku. Sampai akhirnya di suatu pagi seperti biasanya ia menghampiriku dengan candaan khasnya yang menggoda. Di tengah obrolan singkat kami, ia menyatakan cinta padaku dan memintaku untuk jadi pacarnya. Aku terkejut dibuatnya. Sungguh berani gadis ini. Sungguh sayang, aku sama sekali tidak merasakan hal yang sama terhadapnya. Tentu saja jika aku menolak, bisa jadi ia akan kecewa dan tak seceria ini lagi.

“aku engga setampan cowok-cowok lain, bahkan aku juga engga sekeren anak-anak basket yang selalu di puja-puja para cewek. Bukannya merendah, tapi aku memikirkan kamu yang akan disangka aneh jika pacarakan sama aku” ujarku berusaha membuatnya berubah pikiran.

“aku engga peduli, kamu jauh lebih keren dibanding mereka. Kamu berkharisma dan cerdas . satu lagi, dan tentunya membuatku penasaran. Habisnya kamu misterius banget sih, ngomong aja ala kadarnya”

“hehehe, aku memang engga banyak bicara, Han. Tapi kalau memang kamu yakin sama aku, baiklah aku mau jadi pacarmu. Semoga betah hehe” ujarku merendahkan diri.

“wah..wil, serius nih? Aaaa…asiiiik, makasih, will. I love you..!” pekiknya kegirangan.

“hehehe” aku hanya bisa tersenyum melihat wajah cerianya. Bagaimana bisa aku menghancurkan harapan gadis baik ini. Akh!

                Saat kelas pertama usai, Randi menghampiriku yang tengah asik membaca buku.

“jujur nih ya, gue perhatiin akhir-akhir ini kayaknya lo sakit deh” ujarnya tiba-tiba.

“maksud lo apa? Gue baik-baik aja tuh” jawabku datar.

“beberapa hari ini gue sering liat lo senyum-senyum trus ketawa-ketawa sendiri kayak orang gila diparkiran. Kalau ada beban, cerita dong ke gue. Jangan bertingkah aneh seperti itu”

“lo yang aneh, datang-datang langsung ngatain gue  gila. Orang gue ketawa bareng Hanika” kataku membela diri.

“tuh kan makin gila. Siapee lagi tuh Hanika? Jelas-jelas gue liat lo tiap hari di sono sendirian. Setiap hari selalu gitu. Gue baru berani negur lo sekarang biar lo sadar, bro.”

Aku menutup buku lalu menatap Randi yang duduk di mejaku. “gue yang gila apa lo sih? Jelas-jelas tiap pagi tuh si Hanika bareng gue di parkiran. Mata lo bermasalah tu. Sana ngukur kacamata” kataku mulai kesal.

“terserah lo deh, gue cuma prihatin sama lo, wil. Sakit lo, men” kata Randi beranjak dari meja.

                Aku memikirkan lagi ucapan Randi barusan. Aku menganggap Randi sedang stress pasca perceraian orang tuanya. Ia memang banyak bertingkah aneh dan cara bicaranya ceplas-ceplos. Mumpung istirahat, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi Hanika, gadis yang baru saja menjadi pacarku meskipun aku sama sekali tidak mencintainya.

“eh maaf mo tanya nih, Hanika ada di kelas?” tanyaku pada salah seorang teman kelas Hanika.

“Hanika? Disini engga ada siswi yang namanya Hanika. Salah kelas kali” jawabnya.

Aku melihat papan nama kelas di atas pintu dan benar ini adalah kelas yang diberitahu Hanika tempo hari. “serius nih? Aku ada perlu nih sama dia, tolong panggilin bentar yah” pintaku

“seriuuuus! Disini engga ada yang namanya Hanika. Dibilangin engga percaya ih” kata orang itu lalu masuk kelas dengan wajah kesal.

“Hanika bohong” gumamku dalam hati yang penuh rasa kecewa.

“nak, cari Hanika? Engga salah?” tiba-tiba saja Pak Hasan, seorang penjaga sekolah sudah berdiri di belakangku.

“maksud bapak? Memangnya ada yang salah?” selidikku penasaran.

Pak Hasan lalu mengajakku duduk dan mengobrol. Ia menceritakan bahwa Hanika itu adalah arwah penasaran yang menghuni sekolah ini. Dulu ia adalah salah satu siswi di sekolah ini dan menempati kelas XI IPA 5. Namun, ia dikabarkan telah meninggal dunia akibat menggantung dirinya pada pohon yang berada di halaman belakang sekolah yang memang sangat sepi. Seorang sahabatnya yang dimintai keterangan mengatakan bahwa Hanika depresi karena tak bisa menikmati masa remajanya dengan leluasa. Ia di kekang oleh kedua orang tuanya, bahkan untuk mendatangkan teman cowok di rumahnya untuk belajar bersama saja tidak diperbolehkan. Ia akan dipukul oleh ayahnya jika kedapatan diantar oleh seorang teman cowoknya. Ia mempunyai keinginan untuk merasakan pacaran dengan seorang cowok yang ia sukai, tapi rupanya semua cowok di sekolah  ini sudah tahu seperti apa ayah Hanika dan tidak satupun dari mereka yang berani menjalin hubungan dengannya. Saking depresinya akhirnya ia mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu.

Usai mendengar cerita Pak Hasan, aku merasa shock. Aku belum percaya atas apa yang aku dengar. “setiap hari dia selalu datang ke saya, pak. Saya engga tahu kalau ternyata Hanika adalah..” aku tak dapat melanjutkan ucapanku.

“benarkah? Wajarlah, dia masih penasaran karena ingin mempunyai pacar. Kasihan juga dengan anak itu. Tapi berdoa saja agar arwahnya bisa tenang dan tidak gentayangan lagi” kata Pak Hasan bijak

                Keesokan harinya, tak nampak Hanika yang selalu menghampiriku saat memarkir sepeda motor. Aku langsung saja masuk kelas dan mendapati secarik kertas tergeletak di atas meja. Di atasnya tertuliskan sesuatu, “Wildan, karena kamu, aku bisa tenang sekarang. aku tidak bisa lagi menyambutmu di parkiran setiap pagi. Terima kasih telah menerima cintaku. Hanika”

Hatiku merasa tak karuan dan cepat-cepat menyimpan kertas itu ke dalam tas. Sebuah sosok perempuan berambut panjang terlihat tengah tersenyum dari balik jendela kelas.

“aku akan merindukanmu, Hanika” gumamku  dengan mata berkaca-kaca.

CILIK VS LICIK

4.jpg

“mumpung hari ini pulang cepet, main ke terminal lagi ah..” kata Fulan gembira.

            Langit tak begitu cerah hari ini, meskipun demikian tak mengurungkan niat Fulan untuk berjalan-jalan kemana pun ia inginkan. Walaupun ia masih berusia 11 tahun, ia sudah berani bepergian tanpa orang tua. Kebetulan hari ini sekolah memulangkan para muridnya lebih awal karena ada rapat guru.

 Berbeda dengan teman sebayanya yang senang bermain di time zone atau berjalan-jalan di mall, ia malah memilih terminal sebagai tempat hiburannya. Sambil mengayuh sepedanya, ia bersiul kecil di tengah hiruk pikuk kendaraan kota. Setelah sampai di tujuan, ia duduk di sebuah kursi panjang tempat biasanya orang menunggu datangnya bus.

“esnya satu, bang!” seru Fulan pada abang penjual es yang sedang nongkrong tak jauh dari tempatnya.

Sebuah kantong plastik berisikan es berwarna merah muda sudah di tangan Fulan. “makasih..berapa nih, bang?” tanya Fulan. “seribu, neng.” Jawab abang penjual es.

Setelah membayar es tadi, disedotnya es tersebut dengan rakusnya. Ia tampak begitu haus usai mengayuh sepeda. Fulan, gadis kecil yang sedikit tomboy itu memperhatikan setiap aktivitas di terminal. Ia mengamati orang-orang yang turun dari bus sambil membawa banyak barang. Kemudian pandangannya beralih kea rah anak-anak yang pedagang asongan yang tengah sibuk menjajakan dagangannya kepada para penumpang yang turun dari bus. Hati Fulan miris melihat mereka yang kebanyakan sebaya dengannya tetapi sudah bekerja seperti itu. Fulan berjanji dalam hati tidak akan menyia-nyiakan sekolahnya.

Seorang anak laki-laki tiba-tiba duduk di sebelahnya sambil menjilat es krim. Fulan mengamatinya dari atas ke bawah, anak itu pasti anak orang kaya. Terlihat dari penampilannya yang serba bagus.

“ngapain lihat-lihat? Mau?” kata anak itu sambil menyodorkan es krimnya kepada Fulan.

Fulan menggeleng.

“trus, kenapa lihat aku?” tanya anak itu polos.

“engga apa-apa. Ngapain kamu di sini?” Fulan balik bertanya.

“nungguin papaku. Kamu sendiri ngapain disini,bolos yah?” selidik anak itu.

“engga! Aku emang sering main disini tau” kata Fulan, sesekali melihat kea rah bus. “namamu siapa? kamu sekolah di mana?

“Gilang. Aku sekolah di SD 3” jawabnya sambil menjilat es krim.

“wow, itu kan sekolah yang isinya anak orang kaya semua. Kamu beruntung yah bisa sekolah di sana. Pasti kamu orang kaya deh. sepatumu aja bagus banget” ujar Fulan mengamati sepatu Gilang yang nampak bagus sekali.

“iya, papaku orang kaya banget. Aku juga mau jadi kaya seperti papa”

Sejenak fulan kembali menatap wajah Gilang yang terlihat masih sebaya dengannya. “sombong banget nih orang” batinnya.

“emang papamu kerja di mana sih?” selidik Fulan penasaran.

“di sini” jawab Gilang.

“di terminal?”

“iya, papaku jadi supir bus. Aku nunggui papa untuk makan siang bareng” jawab Gilang masih dengan kepolosannya.

Mendengar pernyataan dari Gilang, Fulan menjadi bingung dibuatnya. “aku kira papamu kerja di perusahaan gitu atau jadi pengusaha yang banyak uangnya. Ternyata jadi supir bus bisa bikin kita kaya juga ya?” tanya Fulan makin penasaran.

Gilang melirik Fulan. “bisa dong. Kata papaku, apapun pekerjaan kita mesti di syukuri. Yang penting halal tau. Kata papa lagi, orang yang paling kaya di dunia ini adalah orang yang selalu merasa bersyukur dengan rezeki yang dikasi sama Allah” tutur Gilang. ”papaku engga pernah merasa kekurangan. Papa pengen aku jadi orang besar kelak makanya papa selalu kasi yang terbaik buat aku termasuk sekolah di sekolah unggulan” tambahnya.

Fulan mencerna ucapan Gilang barusan, ia ingin melihat seperti apa sosok papa Gilang. Saat itu juga Gilang berteriak memanggil papanya. Kemudian seorang lelaki berpostur tubuh tinggi dan kelihatan masih muda berjalan ke arah mereka. Ia nampak begitu rapi meskipun peluh terlihat menghiasi wajahnya.

“papaaa…” Gilang bangkit dari kursi lalu memeluknya papanya.

“sudah lama nunggu, nak?” tanya lelaki itu lembut.

“engga kok, pa. yuk kita makan pa, Gilang udah laper nih” rengek Gilang manja.

“iya..sabar, nak” ucap lelaki itu menenangkan Gilang. “lho, ada temennya ya? Halo, namanya siapa, nak?” sapa lelaki itu pada Fulan.

“Fulan, om..” jawab Fulan sambil menyalami tangan papa Gilang.

“udah pulang sekolah ya? Yuk sekalian makan siang bareng om dan Gilang” ajaknya.

“ehm..engga usah, om. Makasih. Fulan makan di rumah aja nanti”

“hoo ya udah. Jangan keluyuran yah, nanti orang tuamu nyari lho” kata lelaki itu ramah. “ya udah om sama Gilang pergi dulu yah”

“iya, om..” jawab Fulan seraya tersenyum.

Gilang dan papanya pun beranjak dari tempat itu. Gilang melambaikan tangan pada Fulan yang masih duduk sambil menyeka keringat di dahinya. Fulan merenungkan kembali perkataan Gilang yang bercerita tentang papanya yang katanya orang yang sangat kaya. Ia cukup dibuat kagum dengan sosok papa Gilang.

            Fulan menengadah ke langit, rupanya matahari sudah mulai bangkit dari kesuraman pagi tadi. Sinarnya mulai terasa panas membakar kulit hingga beberapa kali Fulan menyeka keringat di dahi dan lehernya. Dari depan nampak suasana sudah sangat ramai, pedagang asongan pun juga bertambah jumlahnya. Dari keramaian itu, Fulan melihat seorang pemuda berkumis dan rambutnya acak-acakan merampas tas milik seorang wanita yang tengah berdiri di depannya. Wanita tersebut berteriak histeris, “toloooong…copeeet, toloooong!!” teriaknya sambil berusaha mengejar pemuda itu. Suasana di depan Fulan makin ramai oleh orang-orang yang mengerumuni wanita itu. Orang-orang tersebut berlarian mengejar pencopet yang telah lari menerobos apa saja di depannya. Sambil membuang bungkusan esnya, Fulan memperhatikan kemana arah pencopet itu lari. Dengan gesit ia langsung naik ke sepeda dan dikayuhnya  dengan cepat ke arah larinya pencopet itu.

Nafas Fulan mulai terengah-engah, tapi ia masih bersemangat mengejar pencopet itu. “ish, cepet banget sih larinya tuh copet” gerutu Fulan. Ia lalu mengambil jalan pintas agar cepat menyusul lari pencopet itu. Dari usahanya tersebut, ia berhasil muncul di hadapan pencopet itu di dalam sebuah gang sempit yang sepi. Fulan menatap pencopet itu dengan mimik wajah marah.

“heh, bocah. Minggir lu!!” tegur pencopet itu dengan mimik wajah panik.

“engga mau, kembaliin dong tas ibu tadi. Dosa lho, bang.” Fulan dengan polosnya menceramahi pencopet tadi.

“eh tau apa lu bocah. Sono, kalau mau ceramah di mesjid. Minggir!!” pencopet tersebut mendorong sepeda Fulan hingga terjatuh.

Fulan ikut terjatuh dan seragamnya kotor oleh tanah. Ia geram telah diperlakukan seperti itu. Diambilnya batu lalu dilemparkan ke punggung pencopet tadi.  Spontan pencopet itu menoleh sambil mengumpat Fulan.

“sialan nih bocah. Heh, cari mati lu?!” umpatnya kasar.

“kenapa abang dorong sepedaku. Ini tuh mahal tau. Emang abang bisa ganti apa?” sahut Fulan sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.

“halah banyak bacot lu bocah. Heh, gue kasi tau ya, elu bocah ingusan engga usah cari masalah ama gue. Lu masih kecil, engga tau apa-apa. Sana balik ama emak lu!” ujar pencopet itu kesal.

“ih abang engga pernah sekolah ya? Kok ngomongnya kasar. Abang engga pernah diajarin sama orang tuanya ya kalau ngomong sama  orang tuh harus sopan.” Ujar Fulan polos.

“kurang ajar dah ni bocah. Gini-gini gue juga pernah sekolah. Elu mendingan belajar yang bener, jangan sok pinter deh”

“waktu abang sekolah ada mata pelajaran nyopet ya. Kok aku engga ada, bang?

Pencopet menggaruk-garuk kepalanya. “engga ada sih. Ah ngapain sih lu banyak tanya. Ini tuh buat makan. Gue bisa mati kalo engga makan, lu tau engga itu”

“trus kok aku engga mati waktu puasa? Kan puasa itu engga makan juga”

“astagaaaa…lama-lama gue bejek juga ni curut. Auk ah, bodo amat sama elu” bentak pencopet itu lalu beranjak dari hadapan Fulan dengan cepat.

Saat membalikkan tubuhnya, pencopet tersebut telah dikepung oleh warga yang tengah mengejarnya tadi. Rupanya ide Fulan berhasil mencegah pencopet itu lari lebih jauh lagi. fulan sengaja mengajak pencopet itu mengobrol agar pikirannya teralihkan dari niatnya untuk kabur. Melihat warga telah mengepungnya, pencopet itu tidak berkutik. Ia memohon-mohon kepada warga agar tidak membawanya ke kantor polisi.

“ampun, pak..ampuuun. tolong jangan bawa saja ke kantor polisi” kata pencopet itu mengiba.

“halah, yuk kita hajar aja nih copet!” seru salah satu warga yang amarahnya mulai memuncak.

“jangan! Bawa saja dia ke kantor polisi. Kita engga boleh main main hakim sendiri” tutur salah seorang bapak dengan bijak.

“eh, bang. Siniin dong tasnya” sahut Fulan sambil merebut tas dari tangan pencopet.

“gara-gara elu ngajak gue ngobrol, sekarang gini kan jadinya. Awas lu bocah” bisik pencopet itu geram.

Fulan membalasnya dengan tertawa lebar lalu menyerahkan tas tadi kepada warga untuk dikembalikan kepada pemiliknya.

“wah, hebat kamu dik. Makasih ya atas bantuannya” sanjung salah seorang warga.

“iya, nih anak siapa sih? Orang tuamu pasti bangga punya anak seperti kamu, dik” sanjung yang lainnya.

“eng..hmm” Fulan hanya memainkan roknya sambil menatap para warga yang sedang menyiraminya dengan sanjungan.

Lalu salah satu warga tiba-tiba memberi Fulan sejumlah uang. “nih buat jajan ya, dek”

“engga usah, pak. Aku engga merasa berjasa kok, cuma kebetulan aja lewat sini jadi..gini” jawab Fulan malu.

“ah, adik ini bohong. Terima aja, dik. Tadi bapak lihat usaha kamu mencegah pencopet ini untuk kabur. Nih, ayo terima. Adik berhak menerimanya” ujar bapak itu sambil menyerahkan uang kepada Fulan.

Fulan tak dapat menolak  lagi. Diraihnya uang itu dengan segan sambil mengucapkan terima kasih. Setelah itu ia pamit pulang pada warga dan menyunggingkan senyum terakhir untuk sang pencopet. “sabar yah, bang. Dipenjara tuh enak lho, makan gratis..hehehe.Fulan pulang dulu, dadaaah”

Pencopet itu memelototi Fulan yang tengah naik di atas sepedanya.

Saat pulang ke rumah, ayah dan ibu Fulan sudah bersiap di depan pintu. “darimana saja kamu? Ini lagi, kenapa seragam kamu kotor gini?” selidik ayahnya.

“kamu engga liat sekarang jam berapa?” tambah ibunya.

“anu yah, tadi habis ngejar copet trus jatuh” jawab Fulan apa adanya.

Ayah dan ibunya saling berpandangan. “kalo bikin alasan tuh yang logis, sayang.. anak sekecil kamu mana bisa ngelakuin itu. Yauda sana, mandi habis itu makan dan belajar. Cepetan sana!” perintah ibunya.

“dasar anak ini, selalu saja bikin ulah.” Tambah ayahnya.

Fulan tak dapat membantah lagi. Ia merasa hanya sia-sia belaka jika ia terus bicara karena ucapannya hampir tak pernah mereka percayai. Ia menyeka air mata yang tiba-tiba meleleh di atas pipinya sambil berjalan menuju kamar.

Aroma Cinta Dalam Sepucuk Surat

“Aroma Cinta Dalam Sepucuk Surat”

Ditengah-tengah kesibukanku mengerjakan tugas akuntansi, aku melirik sebuah lipatan kertas  kecil dalam sebuah tas kecil tempatku biasa menyimpan alat tulis, uang, kalkulator dan benda-benda milikku lainnya. “hmmm..hihi” aku menghirup aroma kertas itu sambil tersenyum malu-malu. Itu adalah sepucuk surat yang kuterima sekitar 4 bulan yang lalu, tepatnya bulan Juni beberapa hari setelah aku berulang tahun. Ah, isi kertas ini seolah menjadi mantra penghilang kejenuhan saat aku mengerjakan tugas atau bahkan saat aku sedang galau (hehe), sedih atau perasaan apapun itu yang membuatku jadi down. Kubuka perlahan agar tidak sobek, perlahan aku mulai membacanya, walaupun berkali-kali aku telah membacanya. Namun, sekalipun tak ada rasa bosan.

duaarrr..xD

Oya lupa,

 Dear, nana x)

                Met ultah, sayang. Dengan bertamunya lagi tanggal kelahiranmu, berkurang pula usiamu. Tambah dewasa, tambah pinter, cerdas, makin sabar, makin langgeng pula hubungan kita, yah! xD Aminn..

Sorry kalo tulisanku jelek kek cakar ayam :p moga aja kebaca (_ _ ). Hm..keknya kiriman ini juga telat. Tapi moga aja sampe tempat tujuan! Takutnya nyasar ke tetangga, kan malu kalo diliat isinya xp

Oya, ada novel kecil tuh. Moga kamu suka ya! Terus..ada binde pula. Moga berguna buat kamu, terutama menulis dan mengkonsep. Insya Allah tambah mahir nulis, Na! semangat yah ^^

                                                                                                            Yogyakarta, ##Juni 2012

Arief ‘uki’ Sugiyono

Seperti biasa, setelah membaca surat tersebut, pikiranku jernih kembali. Kuhirup kembali aroma cinta yang masih menyeruak dari dalam surat itu, kemudian melanjutkan tugas yang sempat tertunda.

Rejeki Rupawan

“cowokmu yah? hwaa..ganteng banget” salah seorang temanku sedang mengagumi ketampanan seorang cowok yang fotonya terpampang dilayar laptop. “iya, dia cowokku. hehe” aku tersenyum malu. “beruntungnya kamu” katanya lagi masih dengan wajah terkagum-kagum.

syukurlah, aku tak pernah membayangkan mempunyai seorang kekasih yang menurut orang sangat tampan. aku tidak menuntut pendampingku adalah seorang yang mempunyai tampang yang luar biasa gagahnya atau apalah sebutannya. namun, yah ini adalah rejeki dari Allah. walaupun sebenarnya aku tidak mencintai ketampanannya, melainkan dirinya. anggap saja ini bonus dari Allah, hehe.

memang, dia amat gagah. aku lebih suka menyebutnya manis. dia cowok yang manis memang. tak bosan melihat potretnya. saat mendengar nama, suara, dan wajahnya walau hanya sebuah foto, serasa seribu malaikat mengelilingiku dengan alunan biola yang syahdu. aku tidak melebih-lebihkan, tapi inilah yang kurasakan.

“kalo diliat-liat, kalian ada miripnya yah. wah wah” sahut temanku yang satunya lagi. “masa sih?” aku pura-pura bertanya. “iya, jodoh tuh kyak gitu. kalo udah mirip ya berarti cocok bo”

“bisa aja lu. amin deh, aku harap gitu” aku mengaminkan perkataan temanku yang sebenarnya adalah doa. thanks bro hoho xD

aku kembali melanjutkan tugasku dengan senyuman yang hampir tak bisa ku tampung di bibirku.

Terisi Kembali

“ah pasti bagimu ini gampang bangetlah, bantu aku yah” salah seorang temanku berkunjung ke rumah bermaksud untuk bekerjasama mengerjakan tugas, kebetulan aku pun belum selesai. sesekali dia tersenyum melihat ponselnya. aku melirik dan ikut tersenyum melihatnya. “cie cie..kenapa tuh senyum-senyum?” aku menggodanya. aku masih sibuk mengetik tugasku dengan santai. menurutku ini memang tugas yang tidak rumit. bagi yang memperhatikan penjelasan dosen pasti akan lancar mengerjakannya.

aku kembali melirik temanku yang masih sibuk dengan ponselnya. “tugasnya udah?” tanyaku serius. dia terkejut dan segera meraih bukunya, “ya ampun, aduh..belum. aku banyak masalah di luar, jadi gk konsen kerjanya. bantuin ya, na. plis” dia merengek dengan wajah galau melow. haha dasar. “baiklah” aku mengiyakan permohonannya. aku hanya menuntunnya, bukan mengikhlaskan tugasku di copy paste olehnya. karena sama saja aku mengajarinya bermalas-malasan.

punggungku serasa remuk. entah sudah berapa lama aku duduk. tiba-tiba ponselku berdering. melihat nama yang tercantum dilayar ponsel membuatku begitu senang seketika. “unyu” hehe aku tersenyum sambil membalas smsnya. rasanya tenagaku yang terkuras tadi terisi kembali. alhamdulillah, tugasku selesai.

penyelesaian sengketa

Pengertian sengketa dalam kamus Bahasa Indonesia, berarti pertentangan atau konflik, Konflik berarti adanya oposisi atau pertentangan antara orang-orang, kelompok-kelompok, atau organisasi-organisasi terhadap satu objek permasalahan. Senada dengan itu Winardi mengemukakan :
Pertentangan atau konflik yang terjadi antara individu-individu atau kelompok-kelompok yang mempunyai hubungan atau kepentingan yang sama atas suatu objek kepemilikan, yang menimbulkan akibat hukum antara satu dengan yang lain.

Sedangkan menurut Ali Achmad berpendapat :
Sengketa adalah pertentangan antara dua pihak atau lebih yang berawal dari persepsi yang berbeda tentang suatu kepentingan atau hak milik yang dapat menimbulkan akibat hukum bagi keduanya.

Dari kedua pendapat diatas maka dapat dikatakan bahwa sengketa adalah prilaku pertentangan antara dua orang atau lebih yang dapat menimbulkan suatu akibat hukum dan karenanya dapat diberi sangsi hukum bagi salah satu diantara keduanya

Penyelesaian Sengketa Ekonomi
Penyelesaian sengketa secara damai bertujuan untuk mencegah dan mengindarkan kekerasan atau peperangan dalam suatu persengketaan antar negara. Menurut pasal 33 ayat 1 (Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan) Piagam PBB penyelesaian sengketa dapat ditempuh melalui cara-cara sebagai berikut:
1. Negosiasi (perundingan)
Perundingan merupakan pertukaran pandangan dan usul-usul antara dua pihak untuk menyelesaikan suatu persengketaan, jadi tidak melibatkan pihak ketiga.

2. Enquiry (penyelidikan)
Penyelidikan dilakukan oleh pihak ketiga yang tidak memihak dimaksud untuk mencari fakta.

3. Good offices (jasa-jasa baik)
Pihak ketiga dapat menawarkan jasa-jasa baik jika pihak yang bersengketa tidak dapat menyelesaikan secara langsung persengketaan yang terjadi diantara mereka.
Penyelesaian perkara perdata melalui sistem peradilan:
1. Memberi kesempatan yang tidak adil (unfair), karena lebih memberi kesempatan kepada lembaga-lembaga besar atau orang kaya.
2. Sebaliknya secara tidak wajar menghalangi rakyat biasa (ordinary citizens) untuk perkara di pengadilan.

Perlindungan Konsumen

Perkembangan ekonomi yang pesat telah menghasilkan berbagai jenis barang dan/atau jasa yang dapat dikonsumsi. Barang dan/atau jasa tersebut pada umumnya merupakan barang dan/atau jasa yang sejenis
maupun yang bersifat komplementer satu terhadap yang lainnya. Bervariasinya produk yang semakin luasnya dan dengan dukungan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, jelas terjadi perluasan ruang gerak arus
transaksi barang dan/atau jasa yang ditawarkan secara variatif, baik yang berasal dari produksi domestik maupun yang berasal dari luar negeri.

Hukum Perlindungan Konsumen merupakan cabang hukum yang bercorak Universal. Sebagian besar perangkatnya diwarnai hukum asing, namun kalau dilihat dari hukum positif yang sudah ada di Indonesia ternyata
dasar-dasar yang menopang sudah ada sejak dulu termasuk hukum adat.

Fokus gerakan perlindungan konsumen (konsumerisme) dewasa ini sebenarnya masih pararel dengan gerakan-gerakan pertengahan abad ke-20. Gerakan perlindungan konsumen di Indonesia mulai dikenal dari gerakan
serupa di Amerika Serikat. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang secara populer dipandang sebagai perintis advokasi konsumen di Indonesia berdiri pada kurun waktu itu, yakni 11 Mei 1973. Gerakan di Indonesia ini cukup responsive terhadap keadaan, bahkan mendahului Resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) No. 2111 Tahun 1978 Tentang Perlindungan Konsumen.

Setelah YLKI kemudian muncul organisasi-organisasi serupa, antara lain Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) di Semarang tahun 1985, Yayasan Bina Lembaga Konsumen Indonesia (YBLKI) di Bandung
dan beberapa perwakilan di berbagai propinsi tanah air. Keberadaan YLKI sangat membantu dalam upaya peningkatan kesadaran akan hak-hak konsumen karena lembaga ini tidak hanya sekedar melakukan penelitian atau pengujian, penerbitan dan menerima pengaduan, tapi juga sekaligus mengadakan upaya advokasi langsung melalui jalur pengadilan.

YLKI bersama dengan BPHN (Badan Pembinaan Hukum Nasional) membentuk Rancangan Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Namun Rancangan Undang-Undang ini ternyata belum dapat memberi hasil, sebab
pemerintah mengkhawatirkan bahwa dengan lahirnya Undang-Undang Perlindungan Konsumen akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi.

Pada awal tahun 1990-an, kembali diusahakan lahirnya Undang-undang yang mengatur mengenai perlindungan konsumen. Salah satu ciri pada masa ini adalah pemerintah dalam hal ini Departemen Perdagangan sudah memiliki kesadaran tentang arti penting adanya Undang-undang Perlindungan Konsumen. Hal ini diwujudkan dalam dua naskah Rancangan Undang-undang Perlindungan Konsumen, yaitu yang pertama adalah hasil kerjasama dengan fakultas Hukum Universitas Gajah Mada dan yang kedua adalah hasil kerjasama dengan Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.Tetapi hasilnya sama saja, kedua naskah Rancangan Undang-Undang
Perlindungan Konsumen tersebut tidak dibahas di DPR.

Pada akhir tahun 1990-an, Undang-Undang Perlindungan Konsumen tidak hanya diperjuangkan oleh lembaga konsumen dan Departemen Perdagangan, tetapi adanya tekanan di lembaga keuangan internasional

(IMF/International Monetary Fund). Berdasarkan desakan dari IMF itulah akhirnya Undang-Undang Perlindungan Konsumen dapat dibentuk. Keberadaan Undang-undang Perlindunga Konsumen merupakan simbol
kebangkitan hak-hak sipil masyarakat, sebab hak konsumen pada dasarnya juga adalah hak-hak sipil masyarakat. Undang-undang Perlindungan Konsumen juga merupakan penjabaran lebih detail dari hak asasi manusia,
khususnya hak ekonomi.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mulai berlaku sejak tanggal 20 April 2000. Undang-Undang Perlindungan Konsumen ini, walaupun judulnya mengenai perlindungan konsumen tetepi materinya lebih banyak membahas mengenai pelaku usaha dengan tujuan melindungi konsumen. Hal ini disebabkan pada umumnya kerugian yang diderita oleh konsumen merupakan akibat perilaku dari pelaku
usaha, sehingga perlu diatur agar tidak merugikan konsumen.

Hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen merupakan dua bidang hukum yang sulit dipisahkan dan ditarik batasannya. Az Nasution berpendapat bahwa hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen yang memuat asas-asas atau kaidah-kaidah bersifat mengatur, dan juga mengandung sifat yang melindungi kepentingan konsumen. Sedangkan hukum konsumen diartikan sebagai keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah antara berbagai pihak atau satu sama lain berkaitan dengan barang dan/atau jasa di dalam pergaulan hidup.

Undang-undang Perlindungan Konsumen ini pun memiliki segi positif dan negatif yaitu:

Segi positif adalah:
1. Dengan adanya Undang-Undang ini maka hubungan hukum dan masalah-masalah yang berkaitan dengan konsumen dan penyedia barang dan/atau jasa dapat ditanggulangi.
2. Kedudukan konsumen dan penyedia barang dan/atau jasa adalah sama dihadapan hukum.

Segi negatif dari Undang-Undang Perlindungan Konsumen adalah
1. Pengertian dan istilah yang digunakan di dalam peraturan perundang- undangan yang ada tidak selalu sesuai dengan kebutuhan konsumen dan perlindungan konsumen.
2. Kedudukan hukum antara konsumen dan penyedia produk (pengusaha) jadi tidak berarti apa-apa, karena posisi konsumen tidak seimbang, lemah dalam pendidikan, ekonomis dan daya tawar, dibandingkan dengan
pengusaha penyedia produk konsumen.
3. Prosedur dan biaya pencarian keadilannya, belum mudah, cepat dan
biayanya murah sebagaimana dikehendaki perundang-undangan yang
berlaku.


Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2295174-sejarah-perlindungan-konsumen-di-indonesia/#ixzz1yQJQUkpB

UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Republik Indonesia menjelaskan bahwa hak konsumen diantaranya adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan atau jasa; hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan; hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; dan sebagainya.

Di Indonesia, dasar hukum yang menjadikan seorang konsumen dapat mengajukan perlindungan adalah:

  • Undang Undang Dasar 1945 Pasal 5 ayat (1), pasal 21 ayat (1), Pasal 21 ayat (1), Pasal 27 , dan Pasal 33.
  • Undang Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1999 No. 42 Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia No. 3821
  • Undang Undang No. 5 tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Usaha Tidak Sehat.
  • Undang Undang No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbritase dan Alternatif Penyelesian Sengketa
  • Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan Pengawasan dan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen
  • Surat Edaran Dirjen Perdagangan Dalam Negeri No. 235/DJPDN/VII/2001 Tentang Penangan pengaduan konsumen yang ditujukan kepada Seluruh dinas Indag Prop/Kab/Kota
  • Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No. 795 /DJPDN/SE/12/2005 tentang Pedoman Pelayanan Pengaduan Konsumen

Perlindungan konsumen adalah perangkat hukum yang diciptakan untuk melindungi hak konsumen atau bisa disebut juga segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen. Sebagai contoh, para penjual diwajibkan menunjukkan tanda harga sebagai tanda pemberitahuan kepada konsumen.

Pengertian konsumen sendiri adalah setiap orang pemakai barang dan jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain.

Terdapat Asas perlindungan konsumen diantaranya :

• Asas Manfaat : mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan ini harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.

• Asas Keadilan : partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil.

• Asas Keseimbangan : memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materiil ataupun spiritual.

• Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen : memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan.

• Asas Kepastian Hukum : baik pelaku usaha maupun konsumen mentaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.

Tujuan dari perlindungan konsumen sendiri adalah

• Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri.

• Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan jasa.

• Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen.

• Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi.

• Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan ini sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggungjawab dalam berusaha.

• Meningkatkan kualitas barang atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen.

Hak-hak yang dimiliki oleh konsumen adalah

• Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan jasa.

• Hak untuk memilih barang atau jasa serta mendapatkan barang atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.

• Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan jasa.

• Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang atau jasa yang digunakan.

• Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.

• Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.

• Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.

• Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, apabila barang atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.

• Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Kewajiban yang harus dipenuhi oleh konsumen diantaranya :

• Membaca dan mengikuti petunjuk informasi & prosedur pemakaian, demi keamanan dan keselamatan.

• Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang atau jasa.

• Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.

• Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.

Pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau Badan Usaha baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi.

Hak-hak yang dimiliki pelaku usaha adalah

• Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.

• Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik.

• Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen.

• Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Kewajiban dari pelaku usaha adalah

• Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;

• Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;

• Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

• Menjamin mutu barang atau jasa yang diproduksi dan diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang atau jasa yang berlaku;

• Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, atau mencoba barang atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan garansi atas barang yang dibuat atau yang diperdagangkan;

• Memberi kompensasi, ganti rugi atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang atau jasa yang diperdagangkan;

• Memberi kompensasi, ganti rugi atau penggantian apabila barang atau jasa yang dterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Bila diperhatikan dengan seksama, tampak bahwa hak dan kewajiban pelaku usaha bertimbal balik dengan hak dan kewajiban konsumen. Ini berarti hak bagi konsumen adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha. Demikian pula dengan kewajiban konsumen merupakan hak yang akan diterima pelaku usaha. Kewajiban-kewajiban pelaku usaha juga sangat erat kaitannya dengan larangan dan tanggung jawab pelaku usaha.

Larangan bagi pelaku usaha diatur dalam Pasal 8 sampai dengan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999. Berikut macam-macam larangan bagi pelaku usaha diantaranya:

• Larangan dalam memproduksi atau memperdagangkan,

• Larangan dalam menawarkan atau mempromosikan atau mengiklankan,

• Larangan dalam penjualan secara obral atau lelang,

• Larangan dalam ketentuan periklanan.

Tanggung jawab pelaku usaha diatur dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999:

Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan. Bentuk kerugian konsumen dengan ganti rugi dengan pengembalian uang, penggantian barang atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, perawatan kesehatan atau pemberian santunan yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Sanksi bagi pelaku usaha diatur dalam pasal 62 Undang-undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen telah diatur tentang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh Pelaku usaha diantaranya sebagai berikut :

1) Dihukum dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp. 2.000.000.000,- (dan milyard rupiah) terhadap : pelaku usaha yang memproduksi atau memperdagangkan barang yang tidak sesuai dengan berat, jumlah, ukuran, takaran, jaminan, keistimewaan, kemanjuran, komposisi, mutu sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau keterangan tentang barang tersebut ( pasal 8 ayat 1 ), pelaku usaha yang tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa ( pasal 8 ayat 1 ), memperdagangkan barang rusak, cacat, atau tercemar ( pasal 8 ayat 2 ), pelaku usaha yang mencantumkan klausula baku bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen di dalam dokumen dan/atau perjanjian. ( pasal 18 ayat 1 huruf b )

2) Dihukum dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) terhadap : pelaku usaha yang melakukan penjualan secara obral dengan mengelabuhi / menyesatkan konsumen dengan menaikkan harga atau tarif barang sebelum melakukan obral, pelaku usaha yang menawarkan barang melalui pesanan yang tidak menepati pesanan atau waktu yang telah diperjanjikan, pelaku usaha periklanan yang memproduksi iklan yang tidak memuat informasi mengenai resiko pemakaian barang/jasa.

Dari ketentuan-ketentuan pidana yang disebutkan diatas yang sering dilanggar oleh para pelaku usaha masih ada lagi bentuk pelanggaran lain yang sering dilakukan oleh pelaku usaha, yaitu pencantuman Klausula baku tentang hak pelaku usaha untuk menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen dalam setiap nota pembelian barang.

Klausula baku tersebut biasanya dalam praktiknya sering ditulis dalam nota pembelian dengan kalimat “Barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan” dan pencantuman klausula baku tersebut selain bisa dikenai pidana, selama 5 (lima) tahun penjara, pencantuman klausula tersebut secara hukum tidak ada gunanya karena di dalam pasal 18 ayat (3) UU no. 8 tahun 1999 dinyatakan bahwa klausula baku yang masuk dalam kualifikasi seperti, “barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan” otomatis batal demi hukum.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Perlindungan_konsumen

http://www.anneahira.com/artikel-umum/perlindungan-konsumen.htm

http://www.wikiapbn.org/artikel/Pelaku_Usaha

http://www.tunardy.com/hak-dan-kewajiban-pelaku-usaha/

http://gagasanhukum.wordpress.com/2008/06/26/prinsip-pertanggungjawaban-produsen/

http://www.kantorhukum-lhs.com/1.php?id=Sanksi-Pidana-UU-Perlindungan-Konsumen

Bila dilihat dari sudut pandang hukum perikatan, maka syarat dan ketentuan termasuk ke dalam perjanjian sepihak. Dikatakan sepihak karena tidak terdapat tawar menawar antara pelaku usaha dan konsumen. Inilah yang kemudian disebut perjanjian standar atau perjanjian baku. Perjanjian baku biasanya berupa sebuah formulir yang berisi mengenai kesepakatan antara pelaku usaha dan konsumen. Di dalam formulir tersebut pihak pelaku usaha sudah mengatur mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak. Nantinya yang perlu dilengkapi hanya hal-hal yang bersifat subyektif, seperti waktu dan identitas.

Tujuan dari pelaku usaha dalam menerapkan perjanjian baku adalah untuk menghemat waktu. Karena dalam hal ini tidak perlu terjadi proses tawar menawar. Selain itu, perjanjian baku juga diterapkan untuk membuat keseragaman terhadap pelayanan yang diberikan kepada konsumen. Dengan adanya perjanjian baku, maka semua konsumen diperlakukan sama.

Meskipun memberi keuntungan dalam hal efisiensi, namun perjanjian baku memiliki kekurangan. Yakni menempatkan konsumen dalam posisi yang lemah. Hal ini terjadi karena yang membuat perjanjian tersebut adalah pihak pelaku usaha. Biasanya yang bertugas untuk membuat perjanjian ini adalah staff legal dari pelaku usaha. Seorang staff legal tentu memiliki pemahaman yang sangat baik mengenai hukum dan mengetahui ‘celah hukum’ yang dapat dimanfaatkan demi kepentingan pelaku usaha.

Pihak pelaku usaha cenderung membuat perjanjian baku yang akan melindungi kepentingannya bila terjadi hal yang tidak diinginkan dan menimbulkan potensi kerugian kepada pelaku usaha. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya hak pelaku usaha dan kewajiban konsumen yang terdapat di dalam sebuah perjanjian baku. Dalam hal perjanjian baku konsumen bukan lagi raja, melainkan sapi perahan.

Satu-satunya kekuasaan yang dimiliki oleh konsumen terhadap perjanjian baku adalah untuk menolak penawaran yang diberikan oleh pelaku usaha. Ini berarti bila konsumen tidak setuju dengan ketentuan yang terdapat di dalam perjanjian baku, maka satu-satunya pilihan yang dimiliki oleh konsumen adalah untuk tidak menerima penawaran yang diberikan oleh konsumen. Istilah kerennya adalah ‘take it or leave it’.

Oleh karena itu, konsumen dituntut untuk jeli dan sedikit rewel dalam menanggapi penawaran dari pelaku usaha. Perhatikan isi perjanjian baku dengan seksama. Salah mengartikan satu buah titik saja bisa berakibat fatal terhadap kepentingan konsumen.

sebuah kado bernyawa

Sisa purnama di atas sana tengah memperlihatkan pesonanya, seolah ingin mencuri perhatian semua makhluk dan memperlihatkan betapa indah wujudnya dimalam hari walaupun kini hanya terlihat sisa-sisa cahaya yang hampir redup di tutupi awan. Tetap pada pendirian walaupun ia tahu bahwa esok ia akan digeser dari singgasananya oleh sang fajar. Sisa purnama itu, seolah menghalau duka. Ia tengah tersenyum padaku.

Pukul 01:22 pagi, mataku enggan terpejam. Hembusan angin yang masuk dari ventilasi kamarku terasa menusuk hingga ke tulang. Sangat dingin, aku meraih selimut bermotif beruang yang terhampar di tempat tidur, lalu kubalut seluruh tubuhku. Sesekali aku memejamkan mata agar kantuk itu segera datang. Sungguh sangat tersiksa untuk gadis muda sepertiku, menderita insomnia akut yang tak kunjung berhenti. Aku kembali membuka mataku, rupanya kantuk itu tak ingin mendekat padaku. Ya sudahlah, aku hanya pasrah dengan keadaan menyedihkan ini. Mataku tertuju pada potret di dinding. Seorang wanita muda tengah tersenyum dan disebelahnya potret diriku yang tengah memegang sebuah gitar. Aku masih mengingat jelas kapan gambar itu di ambil. Rasanya sudah lama sekali.

 Aku menengadah ke langit hitam. Sisa-sisa purnama itu kembali terlihat jelas. Ada sedikit perasaan bahagia menyaksikan wujudnya bersinar kembali.

***

            Aku bangkit dari tidurku ketika suara adzan tengah berkumandang. Duduk sejenak menikmati alunan suara muadzin yang begitu menarik perhatianku. Tahukah ia bahwa suara itu adalah rahmat Allah yang diberikan padanya. Aku bersyukur masih ada pemuda yang ingin menyumbangkan suara indahnya untuk membangunkan orang sholat subuh. Aku bergegas mengambil air wudhu dan mensucikan diri. Setalah itu, ku gelar sajadah pemberian ibuku 5 tahun yang lalu. Terlihat masih baru dan sajadah ini adalah saksi bisu yang setiap hari menyaksikanku berkomunikasi dengan Allah.

            Pagi ini aku memulai rutinitasku seperti biasanya. Berjuang untuk mencari ilmu dunia yang sangat mahal harganya. Walaupun demikian, usaha untuk itu tak pernah berhenti. Ini adalah niat tulus dan amanat dari sang ibu. “perbanyaklah saldo amalan, ilmu dan karyamu. Budi baik adalah cermin seorang gadis yang cantik. Kecerdasan dan tangan dinginmu adalah madu yang akan mendatangkan kumbang hatimu dan suatu saat akan membuatmu jadi orang besar” nasehat ibu untukku. Kalimat-kalimat yang beliau lontarkan seolah tak ada yang tak bermakna. Sungguh, aku belum menemukan keburukan ataupun cela dari wanita cantik itu.

Kubalut kaki panjangku dengan sepatu kets polos berwarna biru dengan tali hitam, terlihat modis. Inilah style dari seorang gadis biasa sepertiku. Selain menuntut ilmu di bangku perkuliahan, aku juga bekerja pada salah satu dealer motor di kotaku. Aku harus pandai-pandai membagi antara waktu berkuliah dan bekerja. Semua itu aku lakukan agar bisa bertahan hidup. Dengan tekad bulat kulangkahkan kaki ini menyusuri jalan di sekitar perumahan dengan menenteng gitar kesayanganku. Di tepi jalan besar aku menghentikan sebuah angkutan umum yang penumpangnya tak begitu banyak. Aku berpikir, jika angkutan umum tidak ada apa yang akan kulakukan? Aku harus menabung entah berapa lama agar bisa membeli setidaknya sebuah sepeda. Atau jika beruntung aku bisa membeli sebuah sepeda motor. Ada kesenangan tersendiri saat naik kendaraan umum ini. Di samping aku bisa bertemu dengan banyak orang yang sebelumnya tidak pernah kutemui, aku juga bisa menikmati keramaian kota tanpa harus bersusah payah mengemudikan mesin. Dan juga beramal. Membayar supir angkot itu adalah bagian terpenting. Jasa yang dia berikan sepertinya tidak sebanding dengan bayaranku. Tapi tarif sudah ditentukan, kalaupun aku banyak uang aku pasti memberinya lebih. Mataku tertuju pada seorang ibu yang tengah mengantar anaknya masuk ke gerbang sekolah. “kapan terakhir kali aku merasakan seperti anak itu?”batinku. ada perasaan iri yang membelenggu hati ini ketika melihat mereka. “aku sudah ikhlas”.

Inilah kediaman keduaku setelah rumah sederhana yang selama ini kutempati bernaung. Sebuah universitas ternama di kotaku. Yah, aku tau ini bukan kampus sembarangan. Aku pun tau ini adalah tempat dimana seseorang harus menjalani masa-masa sulit dan bergelut dengan serangkaian tugas. Bagi yang bermasa bodoh, selamat tinggal.

***     

            Membentuk sebuah kelompok dan ingin dikenal banyak orang. Mungkin seperti itulah pandanganku terhadap sebagian besar penghuni kampus ini. Itulah manusia, citranya sebagai makhluk sosial tak akan lepas sampai kapanpun. Lain halnya denganku, ada sebuah tembok penghalang yang membuatku bersusah payah dalam hal bergaul. Seorang introver sepertiku mungkin banyak yang menyangka bahwa aku tidak punya teman atau aku tidak pandai bergaul. Siapa sangka, aku memiliki begitu banyak teman, walaupun aku cenderung lebih banyak terdiam daripada turut menyumbang suara dalam obrolan mereka. Namun mendengarkan mereka adalah yang terpenting sekarang, karena dari situlah aku bisa mempelajari seperti apa karakter mereka.

            Matahari begitu bersahabat siang ini hingga tubuhku serasa dimasukkan ke dalam oven raksasa. Panasnya begitu menyengat kulit. Aku menuju ke sebuah ruangan paling ujung yang letaknya jauh dari keramaian. Memang ruangan itulah yang menjadi tempatku bergelut dengan gitar tuaku sebagai selingan dari kesibukanku dalam mengerjakan tugas. Dari sini aku bisa melihat betapa luasnya kampus ini, orang-orang yang berlalu lalang tampak sebesar jari kelingkingku saja. Hembusan sang raja kelana begitu sejuk menyentuh kulitku. Kupetik dawai gitar dan kunyanyikan sebuah lirik lagu yang begitu ku sukai. Irama gitar dan suaraku begitu kompak, menggema di ruang hampa ini. Terlintas dibenakku sosok arif nan bijaksana yang mengulas sebuah senyum. Seketika itu menetes air mataku tanpa kusadari..aku telah menangis. “sudahah, aku pun sudah ikhlas.” ujarku menghibur diri. Kuulang lagi nada yang tak sempat kulanjutkan tadi, namun rupanya masih seperti awalnya. Aku bernyanyi ditepi sungai kecil yang mengalir di pipiku.

            Aku belum tahu apakah aku sudah benar-benar ikhlas atau tidak. Lisan bisa saja berkata iya, namun hati? Siapa yang tau. Aku hanya mencoba ikhlas menerimanya. Masih jelas kuingat ketika ibu merawatku seorang diri di rumah sakit padahal beliau tengah sibuk dengan pekerjaannya. Saat itu usiaku masih 14 tahun. Masih terbilang anak yang belum tau apa-apa. Aku juga tidak menginginkan penyakit seperti itu menggerogotiku dalam usia yang begitu muda. Tak lama waktu berselang dokter mengatakan bahwa aku harus mendapatkan donor ginjal. Aku hanya bisa diam dalam kesakitan. Aku khawatir keluhanku akan terdengar oleh ibu. Takut ibu akan merasa cemas dan sedih. Dokter sudah berusaha mencari donor yang pas untukku, namun hasilnya nihil. Aku melihat ibu dengan wajah sendunya yang tengah duduk bersimpuh di atas sajadah sambil berdoa untukku. Setiap doa yang beliau panjatkan pada Allah seolah menyejukkan hati. Dalam hati aku berdoa pula untuknya agar beliau diberi umur panjang.

            Dalam situasi genting saat itu, tak ada pilihan lain kecuali mengabulkan permintaan ibu. “terimalah ginjal ibu, nak” ibu berkata demikian sembari meneteskan air mata. Bibirku bergetar menahan air mata. Nyawaku atau nyawa ibu. Permintaan ibu yang begitu ingin memberikan salah satu ginjalnya untukku memang tidak bisa ku tolak. Beliau bersikeras untuk memberikannya dengan ikhlas. Apa daya, aku hanya seorang anak yang tak ingin mengecewakan seorang ibu seperti beliau. Akhirnya, tibalah hari dimana aku harus dioperasi dan di pasangkan salah satu ginjal milik ibu yang berharga. Dan Alhamdulillah operasi itu berhasil. Ditubuhku ada ginjal ibu yang mau tidak mau harus kuterima. Aku menatap ibu yang sedang duduk di sampingku sambil membelai wajahku dengan lembut. “anak ibu harus sehat.”ujar ibu dengan wajah terlihat pucat. Aku hanya bisa membalasnya dengan pelukan dan ucapan terima kasih. Senja telah berganti malam dan aku masih berada di pelukan ibu yang hangat.

            Bebarapa hari kemudian aku dan ibu kembali ke rumah dalam keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Aku rindu suasana rumah yang dipenuhi dengan sentuhan kasih sayang ibu. Setelah meletakkan barang-barangku di kamar, aku keluar menemui ibu yang sedang sibuk di dapur. Aku melihatnya dari balik tirai “gerakan ibu tidak seperti biasanya, lamban dan tertatih” gumamku. Kusirnahkan pikiran aneh yang tiba-tiba terlintas dibenakku. Aku memeluk ibu dari belakang. “kenapa, anakku?” ibu membalikkan tubuhnya dan mengecup keningku. Aku hampir saja menangis. “ibu, istirahatlah. Biar aku yang memasak” ujarku pada ibu. Sepertinya ibu keras kepala saat ini, beliau tetap melanjutkan pekerjaannya di dapur. Aku berusaha membantu namun beliau menyuruhku duduk saja. Untuk apa aku dilahirkan kalau hanya duduk diam seperti ini melihat ibu sibuk bekerja. Aku seperti anak yang tiada guna. Setelah selesai memasak, kami berdua duduk dan makan bersama. Seperti biasa, masakan ibu memang luar biasa. Dengan lembut ibu menyuapiku “bu, aku sudah besar. Malu tau di suapi” ujarku pada ibu. Sesekali ibu hanya tertawa melihat wajahku yang memerah.

***

            Tiga bulan telah berlalu pasca operasi itu. Aku sudah bisa kembali beraktifitas seperti biasanya. Hidup normal seperti anak-anak sebayaku berkat sebuah ginjal pemberian ibu. Namun, kebahagian yang kurasakan setelah terbebas dari penyakit itu rupanya hanya sementara. Ibu terlalu lemah hingga harus terbaring di rumah sakit. Sungguh aku dilanda rasa penyesalan yang luar biasa. “andai ibu tak memberiku ginjal ini, ibu pasti akan baik-baik saja” ujarku seraya memeluk ibu yang sedang terbaring lemah. Wajah cantiknya terlihat pucat, namun ia masih tetap memberi senyuman. “anak macam apa aku ini” batinku.

***

            Mendung menggantung, deru angin terdengar lembut. Aku terbangun di saat sang fajar belum menampakkan wujudnya. Di sampingku ada ibu yang masih tertidur pulas. Aku menutup tirai yang terbuka agar angin tidak masuk dan membuat ibuku kedinginan. Lalu kubalut tubuh ibu yang pucat dengan selimut tebal. Aku meraih gitar kesayanganku dan mulai memainkan nada indah, berharap ibuku terhibur dalam mimpinya. Selepas memainkan gitar, aku menggenggam tangan ibu, terasa dingin sekali. Tidak seperti biasanya. Dengan rasa cemas aku memegang urat nadi ibu. Sudah tidak ada tanda kehidupan. Hanya sebuah raga yang sudah tidak bernyawa lagi. Aku terdiam sejenak sebelum aku menemukan sebuah kertas tergeletak di sebelah bantal ibu. Kertas itu bertuliskan “selamat ulang tahun, anakku sayang. Ini kado terakhir ibu untukmu. Terimalah ginjal itu dengan ikhlas, nak. Itu untuk kehidupanmu kelak, semoga kamu selalu dilimpahkan kesehatan oleh Allah. Jaga diri baik-baik, kamu anak pemberani. Hadapi hidup ini dengan tegar dan jangan berhenti memainkan gitar untuk ibu. Doa ibu akan selalu menyertaimu.” Aku mengusap air mataku usai membaca surat itu. “ibu..aku sendirian sekarang. Ibu, kenapa aku di tinggal?” aku memeluk ibu sangat erat. Yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana aku bisa melanjutkan hidup tanpa orang tua? Gadis 14 tahun sepertiku harus menerima kenyataan ini. Nyanyian hujan pun datang, pagi ini Allah telah memerintahkan malaikatnya untuk menjemput ibuku.

***

            “hei, daritadi aku mencarimu tau.” suara Yulan dari balik pintu membuyarkan lamunanku. Segera kuhapus air mataku dan menghampirinya. “ada apa, lan?” tanyaku. Tiba-tiba Yulan mendekapku. “selamat ya. Kamu hebat, kamu berhasil mendapatkan beasiswa itu. Kamu akan ke Jepang..aahh senangnya” yulan semakin erat memelukku. Aku sangat terharu dengan semua ini. “calon dokter hebat!” ujar Yulan. “aku janji sama ibu, aku akan jadi dokter kelak. Setidaknya aku bisa menghindarkan seseorang dari penyakit berbahaya”. Yulan tak henti-hentinya mengucapkan selamat untukku. Aku tidak menyangka bisa lulus untuk mendapatkan beasiswa kuliah di Jepang. Aku akan mengejar cita-citaku menjadi seorang dokter, namun aku tak akan berhenti bermusik. Petikan dawai gitar ini sama dengan detak jantungku untuk ibu.

            Kami berdua meninggalkan ruangan itu. Aku mengayunkan langkahku bersama Yulan sambil menenteng gitar kesayanganku. Sesekali kami bercanda dan ia tahu cara membuatku tertawa. “ibu, lihatlah anakmu yang sebatang kara ini. Aku akan ke Jepang, bu” ucapku dalam hati. Setidaknya aku bisa berkeluh kesah dalam nada-nada sendu di ruangan itu sebelum aku pergi. “hahaha..” suara tawa kami memecah keheningan di setiap sudut ruangan.

 

gitar itu..tak berdawai lagi

Kembali aku mendatangi ruangan sunyi itu. hanya ada aku dan seorang pemuda berwajah pucat tak berdaya yang sedang terbujur lemah di sebuah tempat tidur. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang perawat.tapi aku bukan perawat yang lulus dari akademi keperawatan. Aku merawatnya karena itulah kewajibanku sebagai seorang kekasih. Kekasih yang sangat berharga bagiku.

Beribu pertanyaan telah banyak kuterima dari teman-teman dan kerabatku. “untuk apa kau melakukan semua itu?”aku hanya punya satu jawaban yang aku pikir benar dan yah..itulah jawaban tulus dariku. “aku hanya ingin dia bangun dan memainkan gitar ini untukku” jawabku. Terkesan memaksa, dan mungkin hanya aku yang mengerti maknanya.

Kulirik jam berbentuk gitar yang tergeletak di meja. Pukul 04:00 pagi. Aku duduk di samping tempat ia tertidur. Berharap ia akan segera bangun. Sesekali kugenggam tangannya, terasa dingin. Bibirnya terlihat pucat, sungguh pemandangan yang memilukan. Aku tak sanggup melihatnya lebih lama. Lalu kuambil gitar tuaku dan kumainkan sebuah nada lirih sebagai luapan rasa sedihku.

Aku menghentikan permainan gitarku saat kudengar suara adzan berkumandang. Kusegerakan mengambil air wudhu dan shalat subuh. Dalam shalatku, aku berdoa agar Allah membangunkannya. Dia telah lama terbujur dalam keadaan koma. Sering aku berpikir, mengapa bukan aku yang menggantikanya saja?

Setelah shalat, aku kembali duduk disampingnya dan memetik dawai gitar ini. Namun rasanya sama saja. Aku memegang tangannya. Semakin dingin dan kaku. Dengan sedikit perasaan cemas, ku cek denyut nadinya. aku merasakan ada yang berbeda. Aku bersandar dan menghela nafas panjang. Seketika air mataku meleleh membentuk sebuah sungai kecil di pipiku.

Aku beranjak dari kursi dan membuka tirai yang masih tertutup. “selamat pagi” ucapku lirih masih dengan deraian air mata. Aku kembali duduk di sampingnya. Di samping orang yang sangat kucintai yang telah terbujur kaku. Aku memeluk dan mencium keningnya untuk yang terakhir kalinya.
“kuucapkan selamat tinggal untuk pagi ini dan kujelang hari esok tanpa cinta” bisikku padanya.

Button Theme